Rabu, 03 Februari 2016

Untuk Terakhir Kalinya (1)

Hai kamu, seseorang yang dulu pernah singgah di hati ini. Seseorang yang pernah menemani hari-hariku. Aku ingin menyapamu sekali saja untuk yang terakhir kalinya.
Bersamamu selama 7 bulan, mungkin bagimu terasa singkat, terasa biasa saja, terasa tak berarti. Tapi dalam 7 bulan itu membuatku kesulitan menghapus jejakmu di hatiku, membuatku tak bisa memikirkan yang lain selain kamu.
Sungguh, aku tak tau apa yang harus ku perbuat saat harus melepaskanmu, bagiku saat itu merupakan kesalahan terbesarku. Seharusnya aku meminta kamu untuk tetap bertahan dengan memberitahu bagaimana cara melawan kejenuhan itu, bukannya langsung memintamu untuk pergi dari kehidupanku.

Aku ingin jujur, melepasmu sebenarnya bukanlah keinginanku, aku benar-benar tak ingin. Akan tetapi ada seseorang yang begitu memberikan harapan padaku, yang menjanjikan kisah manis bersamanya apabila aku melepaskanmu, yang berjanji tak akan pergi dariku. Dan bodohnya aku percaya semua janji manis itu hingga akhirnya aku tertipu. Aku kehilanganmu, sekaligus kehilangan dia.
Kamu tau sangat sakit rasanya kehilangan dua orang yang sangat dicintai dalam waktu yang berdekatan. Tapi aku tau itu memang kesalahanku, mungkin itu karma yang ku dapat karena telah melepasmu.

Satu bulan tanpamu rasanya hari-hariku sepi, kosong. Tak ada lagi kabar darimu, tak ada lagi canda tawamu, tak ada lagi pertemuan kita yang mungkin membosankan bagimu tapi selalu jadi menyenangkan buatku. Dua bulan pun masih sama, masih terasa menyedihkan bagiku, sampai pada akhirnya aku memutuskan untuk mencari pekerjaan agar aku bisa menyibukkan diri dan melupakan dirimu.
Aku tidak tau bagaimana denganmu, tapi aku rasa kamu bisa melupakanku dengan mudahnya, karena menjauh dariku memang keinginanmu bukan? Karena nyatanya saat aku mengucapkan perpisahan pun kamu masih bisa tertawa di hadapanku.

Aku pun mendapat pekerjaan, walaupun cukup sibuk masih sempat saja aku memikirkanmu. Hingga akhirnya seseorang itu datang, seseorang yang tak pernah terpikirkan akan ada di hidupku. Entah mengapa aku bisa menerima dia untuk masuk di hidupku, entah bagaimana dia bisa dengan mudahnya memberiku kenyamanan. Mungkin karena saat itu aku sangat kesepian karena ditinggal olehmu, sehingga aku tak mampu berpikir panjang untuk tidak menerimanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar