Hmm tak akan pernah ada habisnya kalau membahas yang namanya jodoh, selalu saja menjadi misteri yang tak pernah berujung. Makna jodoh ini masih saja sulit dimengerti, terutama bagi mereka yang belum memiliki pasangan, bahkan saya pun masih bertanya-tanya "Siapa jodoh saya? Apakah dia yang saat ini menjadi kekasihku adalah jodohku di masa depan?" Entahlah.
Katanya jodoh itu sudah ditentukan oleh yang Maha Kuasa, jodoh tidak mungkin tertukar dan akan dipertemukan bila tiba saatnya nanti. Ada juga yang bilang kalau jodoh itu kita yang menentukan dan Allah hanya tinggal merestui saja. Lalu yang mana yang benar? Yah, entahlah, mungkin semua itu ada benarnya. Ya mungkin memang benar, tapi yang membuat bingung ialah bagaimana kita tau kalau orang yang bersama kita, yang kita sebut kekasih ataupun yang mendampingi kita setiap hari adalah jodoh kita atau bukan?
Bagaimana jika dia bukan jodoh kita dan ternyata dia jodohnya orang lain? Atau ternyata malah jodoh kita yang sudah bersama orang lain? Tapi kembali lagi dengan pernyataan diatas, katanya jodoh tidak mungkin tertukar, benarkah? Lalu bagaimana dengan mereka yang sudah menikah kemudian bercerai? Apa karena ternyata yang mereka nikahi merupakan jodoh orang lain? Tapi katanya jodoh tak mungkin tertukar? Atau sebenarnya mereka memang jodoh tapi tak bisa saling mengerti satu sama lain? Tapi bukankah jodoh merupakan pilihan terbaik yang sudah ditentukan oleh yang Maha Kuasa?
Entah sampai kapan semua pertanyaan tentang jodoh ini bersarang di kepalaku. Mungkin akan terjawab saat nanti aku sudah menikah dengan seseorang dan yakin bahwa ia jodohku. Tapi bagaimana menentukannya? Ah mungkin dari kalian ada yang bisa membantu menghilangkan kegelisahan ini?
Just post your opini in the comment below! :)
Kamis, 18 Februari 2016
Kamis, 04 Februari 2016
Untuk Terakhir Kalinya (2)
Sebulan
aku jalani bersamanya, terasa indah, terasa nyaman. Tapi lagi-lagi bayangmu
masih tak mau hilang, rasanya sudah terlalu melekat di hati dan pikiranku. Dua
bulan pun masih begitu. Aku selalu mencoba menghubungimu dengan cara
berkomentar pada status bbm milikmu. Kamu pun merespon dengan baik. Bahkan saat
kita bertemu di pementasan, kamu bersandar padaku dan aku pun tidak bisa
mengelak. Entah bagaimana rasanya masih senyaman dulu saat kamu masih jadi
milikku. Kamu memintaku kembali, tapi aku tidak percaya kalau kamu sungguh-sungguh,
karena saat itu datang seorang wanita yang menemanimu selama pementasan
berlangsung. Perih? Iya. Aku tak tahu kenapa tapi rasanya aku cemburu. Rasanya
aku ingin menjauhkanmu darinya dan duduk di sampingmu. Tapi apa, aku tak
berbuat apa-apa. Dan aku juga sadar aku sudah memiliki dia yang sangat
menyayangiku.
Sejak
saat itu aku mulai mencoba menghindar darimu, sebisa mungkin aku tak ingin
bertemu denganmu. Aku tak pernah datang latihan, aku tak pernah datang ke
acara-acara yang kamu kunjungi, padahal aku sangat ingin tapi aku mencoba
menahan diri. Karena aku rasa itu satu-satunya cara untuk bisa melupakanmu.
Tapi nyatanya masih sulit. Aku masih saja men-stalking semua akun
media sosialmu, masih saja aku mencoba menghubungimu. Padahal sudah hampir 3
bulan aku bersamanya.
Lalu aku
mencoba untuk berhenti melakukan itu, berhenti mencari tahu tentangmu, berhenti
memikirkanmu, menghindari pertemuan denganmu, dan mencoba lebih bahagia bersama
kekasihku, lebih banyak menghabiskan waktu dengannya, lebih sering memikirkan
dirinya.
Dan
akhirnya saat ini aku benar-benar sudah berhenti memikirkanmu, berhenti ingin
tahu semua tentangmu, dan benar-benar rela melepasmu.
Aku tidak
tahu apakah kamu disana masih memikirkanku atau tidak, masih berharap aku
kembali atau tidak. Tapi sudahlah aku tak lagi memikirkan itu. Aku hanya
berharap kamu bisa segera move on
dariku apabila kamu masih tak bisa melupakanku. Tapi jika kamu sudah
benar-benar merelakanku seperti aku merelakanmu, aku hanya berharap kamu bisa
menemuka seorang wanita yang lebih cerewet dari aku dan bisa lebih
membahagiakanmu.
Dan ini
doa terakhirku untukmu “Semoga kamu menemukan seseorang itu dan bisa lebih
bahagia ketimbang saat bersamaku dulu, dan semoga wanita yang kamu temukan
nanti bisa bertahan denganmu dan kamu pun bisa mempertahankan dia hingga kalian
menjadi jodoh yang bersama di pelaminan sampai akhir hidupmu nanti”
Selamat tinggal J
Selamat tinggal J
Rabu, 03 Februari 2016
Untuk Terakhir Kalinya (1)
Hai kamu, seseorang yang dulu pernah singgah di hati ini. Seseorang yang pernah menemani hari-hariku. Aku ingin menyapamu sekali saja untuk yang terakhir kalinya.
Bersamamu selama 7 bulan, mungkin bagimu terasa singkat, terasa biasa saja, terasa tak berarti. Tapi dalam 7 bulan itu membuatku kesulitan menghapus jejakmu di hatiku, membuatku tak bisa memikirkan yang lain selain kamu.
Sungguh, aku tak tau apa yang harus ku perbuat saat harus melepaskanmu, bagiku saat itu merupakan kesalahan terbesarku. Seharusnya aku meminta kamu untuk tetap bertahan dengan memberitahu bagaimana cara melawan kejenuhan itu, bukannya langsung memintamu untuk pergi dari kehidupanku.
Aku ingin jujur, melepasmu sebenarnya bukanlah keinginanku, aku benar-benar tak ingin. Akan tetapi ada seseorang yang begitu memberikan harapan padaku, yang menjanjikan kisah manis bersamanya apabila aku melepaskanmu, yang berjanji tak akan pergi dariku. Dan bodohnya aku percaya semua janji manis itu hingga akhirnya aku tertipu. Aku kehilanganmu, sekaligus kehilangan dia.
Kamu tau sangat sakit rasanya kehilangan dua orang yang sangat dicintai dalam waktu yang berdekatan. Tapi aku tau itu memang kesalahanku, mungkin itu karma yang ku dapat karena telah melepasmu.
Satu bulan tanpamu rasanya hari-hariku sepi, kosong. Tak ada lagi kabar darimu, tak ada lagi canda tawamu, tak ada lagi pertemuan kita yang mungkin membosankan bagimu tapi selalu jadi menyenangkan buatku. Dua bulan pun masih sama, masih terasa menyedihkan bagiku, sampai pada akhirnya aku memutuskan untuk mencari pekerjaan agar aku bisa menyibukkan diri dan melupakan dirimu.
Aku tidak tau bagaimana denganmu, tapi aku rasa kamu bisa melupakanku dengan mudahnya, karena menjauh dariku memang keinginanmu bukan? Karena nyatanya saat aku mengucapkan perpisahan pun kamu masih bisa tertawa di hadapanku.
Aku pun mendapat pekerjaan, walaupun cukup sibuk masih sempat saja aku memikirkanmu. Hingga akhirnya seseorang itu datang, seseorang yang tak pernah terpikirkan akan ada di hidupku. Entah mengapa aku bisa menerima dia untuk masuk di hidupku, entah bagaimana dia bisa dengan mudahnya memberiku kenyamanan. Mungkin karena saat itu aku sangat kesepian karena ditinggal olehmu, sehingga aku tak mampu berpikir panjang untuk tidak menerimanya.
Bersamamu selama 7 bulan, mungkin bagimu terasa singkat, terasa biasa saja, terasa tak berarti. Tapi dalam 7 bulan itu membuatku kesulitan menghapus jejakmu di hatiku, membuatku tak bisa memikirkan yang lain selain kamu.
Sungguh, aku tak tau apa yang harus ku perbuat saat harus melepaskanmu, bagiku saat itu merupakan kesalahan terbesarku. Seharusnya aku meminta kamu untuk tetap bertahan dengan memberitahu bagaimana cara melawan kejenuhan itu, bukannya langsung memintamu untuk pergi dari kehidupanku.
Aku ingin jujur, melepasmu sebenarnya bukanlah keinginanku, aku benar-benar tak ingin. Akan tetapi ada seseorang yang begitu memberikan harapan padaku, yang menjanjikan kisah manis bersamanya apabila aku melepaskanmu, yang berjanji tak akan pergi dariku. Dan bodohnya aku percaya semua janji manis itu hingga akhirnya aku tertipu. Aku kehilanganmu, sekaligus kehilangan dia.
Kamu tau sangat sakit rasanya kehilangan dua orang yang sangat dicintai dalam waktu yang berdekatan. Tapi aku tau itu memang kesalahanku, mungkin itu karma yang ku dapat karena telah melepasmu.
Satu bulan tanpamu rasanya hari-hariku sepi, kosong. Tak ada lagi kabar darimu, tak ada lagi canda tawamu, tak ada lagi pertemuan kita yang mungkin membosankan bagimu tapi selalu jadi menyenangkan buatku. Dua bulan pun masih sama, masih terasa menyedihkan bagiku, sampai pada akhirnya aku memutuskan untuk mencari pekerjaan agar aku bisa menyibukkan diri dan melupakan dirimu.
Aku tidak tau bagaimana denganmu, tapi aku rasa kamu bisa melupakanku dengan mudahnya, karena menjauh dariku memang keinginanmu bukan? Karena nyatanya saat aku mengucapkan perpisahan pun kamu masih bisa tertawa di hadapanku.
Aku pun mendapat pekerjaan, walaupun cukup sibuk masih sempat saja aku memikirkanmu. Hingga akhirnya seseorang itu datang, seseorang yang tak pernah terpikirkan akan ada di hidupku. Entah mengapa aku bisa menerima dia untuk masuk di hidupku, entah bagaimana dia bisa dengan mudahnya memberiku kenyamanan. Mungkin karena saat itu aku sangat kesepian karena ditinggal olehmu, sehingga aku tak mampu berpikir panjang untuk tidak menerimanya.
Langganan:
Komentar (Atom)